Sabtu, 10 Oktober 2015

Ayo Wisata (Gunung Bromo) INDONESIA

GUNUNG BROMO



Gunung Bromo
Berdiri kokoh setinggi 2.329 meter di atas permukaan laut, Gunung Bromo menyimpan keindahan alam yang sayang untuk Anda lewatkan. Gunung berapi yang masih aktif ini secara administratif berada di empat wilayah kabupaten di Jawa Timur, antara lain Kabupaten Malang, Pasuruan, Lumajang dan Probolinggo. Hal ini memudahkan wisatawan untuk datang dari arah mana saja. Gunung yang namanya berasal dari nama dewa dalam ajaran agama Hindu, Dewa Brahma, ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan telah menjadi tempat wisata paling terkenal di provinsi Jawa Timur. Taman nasional seluas 800 km persegi ini melingkupi kawasan Gunung Bromo dan Gunung Semeru.




Sunset Gunung Bromo
Gunung ini terkenal dengan pemandangan matahari terbitnya yang indah. Untuk bisa menyaksikan fenomena ini, Anda harus naik ke Puncak Penanjakan yang merupakan lokasi terbaik untuk dapat melihat matahari terbit.
Katakan pada pemilik penginapan pada malam sebelumnya bahwa Anda ingin menyaksikan matahari terbit. Keesokan harinya sekitar jam 2 dini hari, Anda akan dibangunkan untuk persiapan mendaki. Rasa lelah karena mendaki akan terbayar lunas dengan pemandangan matahari terbit yang luar biasa. Saat matahari perlahan merangkak naik, susasana akan sangat tenang dan hanya terdengar bunyi jepretan kamera wisatawan.


Kawah Gunung Bromo
Gunung Bromo memiliki kawah dengan panjang diameter sekitar 800 meter dari utara ke selatan dan 600 meter dari barat ke timur. Dengan kandungan belerang yang ada di kawah, tak mengherankan jika bau belerang cukup tajam tercium saat Anda berada berdiri di tepiannya. Untuk dapat menikmati keindahan kawah ini, Anda harus menaiki 250 anak tangga terlebih dahulu. Jika ini terdengar melelahkan, tersedia kuda-kuda milik warga sekitar yang bisa Anda sewa.
Suhu udara di Gunung Bromo berkisar antara 3-20 derajat Celcius, bahkan bisa mencapai suhu minus 0 derajat Celcius. Untuk itu, siapkan pakaian hangat, sarung tangan, syal dan penutup kepala. Jika Anda lupa membawa perlengakapan tersebut, tak usah khawatir karena Anda bisa menemukan pedagang di sekitar lokasi.


Suku Tengger Gunung Bromo
Suku Tengger merupakan suku asli yang mendiami daerah sekitar Gunung Bromo. Suku ini identik dengan penampilannya yang suka mengikat kain sarung di leher atau menggantungkannya di pundak. Suku Tengger sebagian besar menganut Hindu.
Nama Tengger berasal dari nama pasangan Roro Anteng dan Joko Seger yang merupakan nenek moyang atau leluhur yang pertama kali mendirikan pemukiman di sini. Disebutkan pula bahwa suku Tengger merupakan keturunan dari masa kerajaan Majapahit. Dikarenakan kondisi kerajaan pada saat itu semakin terdesak oleh pengaruh Islam, penduduk berlarian ke Gunung Bromo dan ke Bali. Hal inilah yang membuat keduanya memiliki kepercayaan yang sama.


Upacara Kasodo Gunung Bromo
Upacara ini merupakan bagian dari tradisi Suku Tengger. Kasodo biasa dilaksanakan pada hari ke-14 di bulan kesepuluh penanggalan Jawa Hindu Tengger. Upacara di mulai dari Pura Luhur Poten yang berada di kaki Gunung Bromo. Selanjutnya, suku Tengger akan berjalan menuju kawah untuk melemparkan sesaji yang terlah disiapkan. Sesaji umumnya berupa hasil pertanian dan perkebunan juga ayam yang masih hidup.
Asal dari upacara ini tak lepas dari kisah Joko Seger dan Roro Anteng. Pasangan ini telah lama menikah dan belum dikaruniai anak. Setelah memohon pada dewa, akhirnya Roro Anteng bisa mengandung, namun dengan syarat bahwa anak bungsu harus dikorbankan dengan cara melemparkannya ke kawah sebagai persembahan.
Singkat cerita, pasangan Joko Seger dan Roro Anteng memiliki 25 anak. Karena nalurinya sebagai orang tua, keduanya menolak mengorbankan anak bungsunya. Sampai kemudian dewa marah dan membuat jilatan api besar keluar dari kawah. Penduduk berlarian menyelamatkan diri, namun anak bungsu pasangan ini tak dapat ditemukan.
Setelah menghilangnya sang anak, tiba-tiba terdengar suara ghaib yang mengatakan bahwa setiap tahunnya suku Tengger harus melaksanakan upacara persembahan di kawah Gunung Bromo. Hal inilah yang menjadi asal mula Upacara Kasodo.


Pasir Berbisik Gunung Bromo
Pasir Berbisik merupakan lautan pasir yang berada di atas ketinggian. Lautan pasir ini terbentang 10 km dan berada tak jauh dari tangga menuju kawah Gunung Bromo. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Segara Wedi. Nama Pasir Berbisik adalah nama yang diberikan karena tempat ini pernah menjadi lokasi syuting film dengan judul yang sama. Selain itu, saat angin berhembus, pasir akan berterbangan dan menimbulkan bunyi lirih seperti suara orang yang sedang berbisik.
Untuk dapat menikmati keindahan Pasir Berbisik ini, Anda bisa berjalan kaki menyusuri butiran pasirnya atau dengan menyewa kuda yang telah siap sekitar lokasi. Jangan lupa memakai masker penutup mulut dan kacamata lebar. Hal ini dikarenakan pasir yang berterbangan tertiup angin bisa mengganggu kenyamanan Anda.


Bukit Teletubbies Gunung Bromo
Anda pernah mendengar kata Teletubbies? Mungkin pikiran Anda langsung tertuju pada serial televisi anak ini pernah sangat populer di Indonesia. Di setiap tayangannya, terdapat adegan yang mengambil lokasi di sebuah perbukitan hijau dan indah. Bukit itulah yang menginspirasi pemberian nama pada perbukitan yang berada tak jauh dari Gunung Bromo ini.
Bukit Teletubbies sebenarnya merupakan padang rumput dan perbukitan berada di sebelah selatan dari Gunung Bromo. Bentuknya yang menyerupai sebuah kubah raksasa akan mengingatkan Anda pada serial Teletubbies.
Bagaimana? Apakah sudah menemukan alasan untuk berkunjung ke tempat wisata ini? Ingat, jelajahi keindahan negeri sendiri dan lihatlah, Indonesia tak kalah menarik dibanding negara lain.


Sabastian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar